Adaperbedaan besar antara THR yang kamu dapet waktu kamu masih kecil dulu dengan sekarang. Jaman dulu: Kamu dapet THR dari keluarga, makin banyak ketemu orang, makin banyak juga THR kamu Jaman Sekarang: Kamu cuma dapet THR dari kantor, makin banyak kamu ketemu keponakan atau sodara yang masih kecil, makin sedikit deh THR kamu.
Lebaransebentar lagi akan datang setelah kita menempuh Bulan Ramadhan yang pernuh Berkah. Lebaran identik dengan bagi-bagi angpau, kue khas lebaran yang disuguhkan setiap kali kita berkunjung ke sanak saudara. Yuk langsung simak seperti dikutip dari brilio.net, Inilah 5 Perbedaan Lebaran Jaman Dulu vs Sekarang, pasti kamu mengalami !
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari Raya AidilFitri atau yang biasa kami sebut Lebaran telah lewat. Namun gema-gema takbir yang berkumandang masih terngiang dengan jelas dalam gendang telinga. Rasa-rasanya momen lebaran akan teringat selalu dan menjadi kenangan yang indah. Tak terkecuali tradisi Lebaran. Setiap orang punya tradisi Lebaran masing-masing, menurut adat-istiadat setempat, atau kebiasaan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi hantar-menghantarkan rantang jelang Lebaran, atau biasa disebut dengan tradisi rantang didaerah asal ingat kah kawan sekalian dengan rantang? Ya rantang, yang biasanya terdiri dari empat mangkuk-an, disusun rapi ketas. Warnanya kebanyakan berwarna silver polos, ada juga dengan ornamen bunga-bungaan yang dibuat timbul keluar maupun tidak, dan ada juga yang bercorak seperti baju tentara atau loreng-loreng. Kuno ya terlihatnya, dan terkesan tidak elite, tidak punya prestice sama sekali. Saya tidak tahu, apakah kawan sekalian punya perabot ini, atau tidak dirumah, sebagai barang koleksi, atau pajangan yang sewaktu-waktu bisa dipergunakan untuk keperluan tertentu. Yang pasti dijaman itu, tahun 1990-an orang-orang didesa saya gemar membeli perabot rumahtangga yang satu ini. Setiap rumah pasti memlikinya. Hal ini tak lain, tak bukan, karena kegunaan rantang yang sangat membantu dan bermanfaat. Tidak hanya sebagai wadah untuk menghantarkan makanan siang keladang dan sawah, tapi juga untuk kegunaan lainnya, yaitu sebagai wadah untuk menghantarkan hantaran jelang seorang kenalan di Singapura memesan makanan dan dihantarkan dengan rantang berwarna silver polos, ingatan saya langsung tertuju pada tradisi rantang didaerah asal. Itu benar-benar merupakan suatu tradisi yang begitu kental dan terus terekam dalam otak saya hingga saat ini. Disadari atau tidak, dijaman itu, saling hantar-menghantarkan makanan khas ini sangat ditunggu-tunggu oleh warga desa. Momen-nya benar-benar dinantikan setiap menjelang bulan puasa. Rasa-rasanya lega sekali bila suatu keluarga telah melakukan kegiatan ini, serasa tidak ada beban lagi. Tak harus makanan berlabel mewah, namun sesederhana mungkin, semampunya, seberapa besar anggaran yang dimiliki oleh warga untuk membuat hantaran rantang itu tradisi rantang Lebaran? Saya tidak tahu apakah kawan sekalian punya tradisi Lebaran yang satu ini, atau tidak, dalam menyambut Hari Raya AidilFitri/ Lebaran. Ditempat kami daerah asal saya tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat setempat, guna menyambut/ menandakan Lebaran akan segera tiba. Biasanya, dilakukan jelang akhir bulan puasa, yaitu satu minggu sebelum hari raya tiba. Jadi, menginjak minggu keempat dibulan Ramadhan, orang silih-berganti saling hantar-menghantarkan rantang kepada kerabat dan tetangga sekitar. Unik ya...sayapun mengatakan ini tradisi unik dan sangat apakah rantang-rantang itu dihantarkan dalam keadaan kosong sebagai hadiah Lebaran, atau kah ada isi didalamnya? Tentu saja, didalam rantang itu ada isinya. Yang dihantarkan pada kerabat dan juga tetangga adalah isi didalam rantang tersebut bukan rantangnya sebagai hadiah Lebaran. Kira-kira apa ya isi dari rantang-rantang tersebut? Isinya adalah nasi, daging ayam dimasak santan kadang ada beberapa orang memasak daging ayam dengan cara dikecap, sambel goreng tempe dan tahu bila punya anggaran lebih bisa ditambahkan dengan kentang, hati ayam, dan petai, mie telor/ bihun goreng, telur rebus satu/ dua biji jika ingin diberi telur dengan anggran lebih, terakhir kerupuk unyil. Wuah...mantap kan isinya??...Sangat menggugah selera makan. Bisa dimakan saat buka puasa dan sahur. Terlebih lagi bila dalam satu hari kita mendapatkan dua sampai tiga hantaran rantang!!Penyusunan makanan didalam rantang tersebut dibuat berurutan, mangkuk rantang paling bawah disi degan nasi, mangkuk rantang selanjutnya diisi dengan masakan daging ayam, keatas lagi bisa diisi dengan mie/ bihun goreng, sambal goreng, telur rebus pilih salah satunya atau semuanya, mangkuk rantang paling atas diisi dengan kerupuk unyil. Masing-masing dari urut-urutan peletakan makanan itu selalu sama dan tak pernah berubah. Setiap rantang pasti memiliki urutan makanan yang sama. Karena rasa-rasanya tidak etis bukan...bila nasi diletakkan pada bagian atas rantang, sementara kerupuk yang memiliki berat paling ringan diletakkan diurutan paling nih, penerima hantaran rantang harus segera memindahkan isi didalam rantang untuk kemudian memberikan kembali rantang tersebut pada pengirim rantang diwaktu bersamaan. Jadi, sewaktu ada orang yang mengirimi kita rantang Lebaran, kita harus segera memindahkan nasi beserta lauk-pauknya kepiring kita sendiri. Selanjutnya, kita berikan kembali rantang tersebut. Karena diluar rumah ada yang menunggunya. Kalau jaman dulu, sewaktu saya kecil, biasanya anak-anak kebagian menghantarkan rantang. Dulu sayapun selalu kebagian tugas untuk menghantarkan rantang Lebaran pada kerabat dan tetangga sekitar. Sering sekali sampai harus memanggil kawan-kawan sepermainan saya untuk membantu menghantarkan rantang-rantang itu. Sementara orang dewasa, seperti ibu dibantu oleh kakak sepupu berbagi tugas untuk masak-masak didapur dari pagi sampai lewat tengah hari. Maklumlah...keluarga kami saat itu biasanya memasak hantaran rantang dalam jumlah lumayan banyak, bisa untuk kenduri 60 lumayan besar untuk melakukan tradisi rantang Lebaran tersebut. Tetapi seperti yang sudah saya bilang diatas, tradisi ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, semampunya saja. Tetangga satu RT rukun tetangga saja sudah banyak jumlahnya, apalagi bila ditambah dengan kerabat, serta kenalan-kenalan lain diluar RT. Oleh karenanya, tidak semua orang melakukan tradisi ini. Hanya mereka yang merasa punya anggaran saja yang melakukannya. Bila seseorang benar-benar tidak mampu, untuk biaya makan sehari-hari saja sulit, maka merekalah yang akan mendapat hantaran rantang, dan tentu saja menjadi prioritas. Tetapi ada juga orang-orang yang membuat hantaran rantang hanya untuk tetangga kanan-kiri saja, sehingga biayanya tidaklah besar. Karena untuk masak daging, biasanya warga desa tidak membeli daging ayam, namun menyembelih ayam peliharaan sendiri. Bila hanya punya peliharaan bebek, maka bebek itulah yang disembelih untuk dimasak. Terlebih lagi disaat itu, masih banyak warga desa yang memiliki beras hasil panen sendiri. Jadi, untuk masalah biaya, tradisi hantaran rantang Lebaran tidak terasa memberatkan warga, malah mereka begitu demi tahun tradisi itu mulai memudar, dan benar-benar menghilang untuk saat ini. Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya. Dari keluarga kami sendiri, memang sengaja menghentikan tradisi rantang Lebaran ini. Pertimbangan akan biaya menjadi kendala. Maklum...setelah keluarga kami berada pada titik nol ditahun 1995, jangankan membuat hantaran rantang untuk tetangga kanan-kiri, barang untuk makan sehari-hari saja kami kesusahan. Sekali waktu setiap jelang Lebaran, keluarga kami masih mendapat rantang Lebaran. Namun lama-kelamaan tidak ada yang menghantarkan rantang Lebaran lagi. Orang-orang sekitarpun sudah mulai enggan melakukan tradisi ini. Entah mengapa, namun pada akhirnya saya mulai mengerti, tradisi itu sudah berganti dengan tradisi menghantarkan sebotol sirup dan kue itupun hanya untuk kerabat dekat saja.Mengapa tradisi rantang Lebaran menghilang dan berganti dengan tradisi menghantarkan sirup dan kue? Dari pengamatan saya pribadi, warga/ masyarakat sudah tidak tertarik lagi dengan “berepot ria” memasak hantaran rantang Lebaran untuk tetangga dan kerabat. Kuno, hanya itu kata yang pas menggambarkannya. Rantangnya saja sudah tak diminati untuk dibeli dan menjadi salah satu perabot rumahtangga. Jangankan membeli, bahkan dipasarpun sudah sulit untuk menemukan penjual rantang, malah sudah tidak ada. Lho, kenapa tidak tertarik lagi untuk menjalankan tradisi ini? Setahu saya, menginjak tahun 2000-an, didaerah asal saya, setiap jelang lebaran, disetiap rumah kesibukannya sudah berubah. Yang tadinya sibuk mempersiapkan/ membuat hantaran rantang dihari tertentu, kini menjadi kesibukan membuat kue-kue Lebaran sepanjang Ramadhan. Ya...euforia membuat kue Lebaran sendiri sedang menjadi tren dan digandrungi masyarakat disana, hingga saat tidak heran, tradisi rantang Lebaran hilang bak ditelan bumi. Berganti dengan hantaran kue serta sirup, yang katanya lebih praktis. Akhirnya, menumpuklah berbotol-botol sirup dirumah keluarga kami, entah diberi kerabat, tetangga, maupun tempat ayah bekerja. Saya ingat betul satu hal, karena diminta untuk menghabiskan sirup-sirup yang ada dirumah tidak ada yang doyan sirup rasa jeruk itu kecuali saya, saya ini selalu diare tiap Lebaran! Lho..lebih berkesan rantang lebaran kan...saya sendiri merasakan itu. Meski tidak suka daging ayam, saya suka dengan sambal goreng, mie goreng, dan kerupuknya. Karena tidak semua orang suka dengan minuman sirup, dan juga kue-kue. Contohnya saya, maaf ya dengan jujur saya katakan kalau saya termasuk orang yang tidak begitu suka dengan kue-kue Lebaran ya mungkin karena bosan, dimana-mana kuenya sama, apalagi dulu itu tiap jelang Lebaran selalu membantu seorang tetangga membuat pesanan kue-kue Lebaran. Ya maklum juga...lidah saya ini sukanya singkong goreng, kelanting, kripik singkong, keripik pisang...Setiap Lebaran, berkunjung kerumah saudara/ tetangga, yang saya cari dimeja adalah kripik singkong, atau kelanting saya berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi rantang ini, namun ditolak oleh ibu saya. Ibu saya lebih suka mengocok telur beserta gula pasir untuk kemudian dibuat kue, dan dibagikan pada kerabat. Sering saya ini merasa sedih, kangen dengan masa-masa itu, dimana warga saling kunjung-mengunjungi seminggu sebelum hari raya, hanya untuk sekedar bersilaturahmi dengan mengantarkan makanan hasil masakan sendiri dengan wadah rantang. Meskipun yang datang hanya anak tetangga yang sedang masak-masak untuk hantaran, buat saya, itu adalah kenangan indah didaerah asal dimana warganya terlihat rukun dan damai. Bahkan warga non-muslimpun bisa ikut serta dalam tradisi ini. Indah bukan...Maknanya tidak hanya sekedar makanan yang kita hantarkan, tapi rasa persaudaraan begitu kental, mengajarkan untuk berbagi pada mereka yang tidak mampu meski kita hanya bisa memberi nasi dan lauk-pauk seadanya kita punya. Dan juga sebagai ucapan syukur pada Sang Pencipta atas berkah yang diberikan. Luar biasa maknanya...Saya tidak tahu, apakah masyarakat disana daerah asal saat ini merasa kehilangan tradisi ini atau tidak, atau bahkan sudah lupa sama sekali. Dilupakan seperti rantang-rantang itu, yang dianggap kuno dan banyak dibuang oleh pemiliknya. Rantang itu kuno...tradisi hantaran rantang Lebaran juga kuno....! Yang pasti, dalam diri saya pribadi, saya ingin sekali menghidupkan tradisi ini, minimalnya dalam kehidupan saya dan suami tercinta. Meskipun belum terwujud hingga saat ini, dikarenakan setiap lebaran tidak berada ditempat “riwa-riwi”. Tapi, bila nanti disuatu lebaran bila diberi umur panjang kami berada ditempat tidak pergi kemana-mana, saya pasti akan memasak untuk tradisi rantang Lebaran. Lihat Sosbud Selengkapnya
Namundi sinilah perbedaan antara pesantren dulu dan sekarang yang cukup signifikan. Oleh sebab itu santri zaman dulu kalau susah menghafal, atau susah belajar, yang dilakukan adalah shalat, tirakat, sembari meninggalkan maksiat. Menghafalnya jauh lebih mudah dan lebih melekat. Ilmu dari Allah, maka mendekat pada Allah.
Kalau kamu orang Jawa, pastilah tahu tentang lebaran ketupat. Selain merayakan hari pertama lebaran, masyarakat Jawa seminggu kemudian juga merayakan lebaran ketupat. Jadi, pada saat hari pertama idul fitri masyarakat Jawa tidak membuat ketupat, tapi baru seminggu kemudian. Memang bukan tidak dilarang, tapi kebiasaannya begitu. Tradisi ini turun temurun di jaga sampai sekarang. Bahkan ada ritual khusus sebelum merayakan lebaran ketupat yang melibatkan perangkat desa atau orang-orang penting dalam pemerintahan. filosofi kupat lepet, foto Makna tradisi lebaran sangat dalam bagi masyarakat Jawa serta mengandung filosofi kehidupan tersendiri. Tujuannya sebenarnya sama dengan melaksanakan hari raya idul fitri yakni saling memaafkan serta bersilaturahmi yang biasa disebut Halal Bihalal. Makna Dari Lebaran Ketupat❤️ Sejarah Makna dan Filosofi Ketupat dalam Tradisi Lebaran, foto Tradisi lebaran ketupat ini dilaksanakan pada hari ke-7 pada bulan syawal yang juga dikenal sebagai hari raya kecil. Mengapa disebut demikian, karena pelaksanaannya setelah melakukan puasa syawal 6 hari. Sebagaimana sunnah rasul, setelah merayakan Idul fitri, satu hari setelahnya disunahkan berpuasa sampai 6 hari. Sehingga, pada hari ke-7 itu disebut dengan hari raya kecil atau lebaran ketupat. Lebaran berasal dari istilah Jawa yakni Lebar artinya selesai atau sudah berlalu. Maksudnya, lebar adalah telah berlalunya bulan ramadhan atau selesainya pelaksanaan puasa wajib sampai tibalah bulan syawal. Awal bulan syawal itulah pelaksanaan hari raya idul fitri. Lebaran Ketupat di Gorontalo, foto Kalau orang Jawa menyebutnya dengan Bodho atau Riyaya. Riyaya adalah singkatan dari kata hari raya. Sedangkan bodho dari istilah arab yakni ba’da yang artinya selesai. Jadi Bodho atau Riyaya sama artinya. Sementara makna ketupat adalah sajian khas Asia Tenggara yang terbuat dari beras, lalu dibungkus dengan janur atau daun kelapa berbentuk anyaman. Masyarakat Jawa sering menyebut ketupat dengan kupat. Terdapat dua bentuk ketupat yaitu jajaran genjang dan kepal umumnya, masing-masing mempunyai alur anyaman berbeda. Janur pembuat ketupat dipilih yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Negara tetangga seperti Brunei, Singapura serta Malaysia juga tahu tentang ketupat. Ketupat disajikan bersama opor ayam, sambal goreng, rendang dan beberapa masakan-masakan yang mengandung santan sesuai khas daerah masing-masing. Sejarah Tradisi❤️ tradisi lebaran ketupat, foto Asal muasal lebaran ketupat atau kupatan atau syawalan atau bodho kupat di Jawa ini sejak jaman pemerintahan Sultan Paku Boewono IV. Dilaksanakan pada hari ke-7 bulan syawal. Di lebaran ketupat inilah masyarakat Jawa membuat ketupat, opor serta hidangan khas lebaran lainnya. Selain ada ketupat, ada juga lepet yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa. Selain untuk dimakan sendiri, sajian itu juga sebagai hidangan penyambutan tamu yang ingin melakukan halal bi halal di rumah kita. Sebelum memulai kegiatan, di pagi harinya setelah subuh ada upacara sedekah laut seperti larung kepala kerbau. Upacara tersebut mungkin berbeda pada setiap daerah. Upacara larung ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena Tuhan sudah memberikan rejeki kepada masyarakat dari lautnya. Lebaran Ketupat Durenan, foto Upacara tersebut diikuti oleh warga terutama para nelayan yang bekerja mencari hasil laut. Selanjutnya semua orang kembali ke rumah masing-masing. Setelah itu, mushola di daerah sekitar juga mengadakan shodakohan. Semua warga sekitar mushola boleh membawa makanan atau minuman, lalu dibacakan doa dan tahlil bersama. Setelah itu, dimakan bersama-sama. Kegiatan yang dilakukan saat lebaran ketupat di Jawa adalah silaturahmi atau berkunjung ke sanak saudara. Setelah meminta maaf dan bersilaturahmi, biasanya dilanjutkan dengan berwisata. Bisa berwisata ke destinasi dalam kota ataupun luar kota. Umumnya pergi ke daerah seperti pantai. Semua masyarakat Jawa sangat antusias merayakan lebaran ketupat ini. Olahan Masakan dengan Ketupat, foto Bahkan tempat-tempat wisata dipadati oleh pengunjung dari pagi sampai sore hari. Perayaan hari raya kecil meriah sekali, disambut penuh kegirangan oleh masyarakat Jawa baik anak-anak sampai orang dewasa. Filosofis Lebaran Ketupat❤️ Selain Sultan Paku Boewono IV, tokoh yang populer dalam mengenalkan budaya ini adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang pertama kali memperkenalkan ketupat. Ketupat atau kupat berasal dari singkatan kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalaha. Tradisi Membuat Ketupat, foto Sesama muslim sebaiknya mau mengakui kesalahan, saliang memafkan serta melupakan semua kesalahan dengan bersama-sama menyantap ketupat. Karena itulah mengapa ketupat dipilih sebagai sajian pada waktu idul fitri. Makan ketupat merupakan sarana mencairkan suasana, sehingga bisa melupakan semua kesalahan dan damailah sesama muslim. Sebenarnya masih banyak filosofi mengenai ketupat ini. Bungkus kupat yang terbuat dari janur kuning merupakan lambang penolak balak. Janur berarti sejatine nur cahaya menyimbolkan bahwa pada hari memakan ketupat kondisi manusia telah kembali dalam keadaan suci setelah memperoleh pencerahan selama ramadhan. Sementara bentuk segi empatnya, menyiratkan prinsip dari kiblat papat lima pancer berarti bahwa kemanapun manusia pergi, pasti nantinya kembali menuju Allah. Kiblat papat lima pancer juga menggambarkan 4 macam nafsu dunia. Persiapan Lebaran Ketupat, foto 4 Macam nafsu tersebut adalah nafsu emosional, nafsu untuk memuaskan rasa lapar aluamah, nafsu dalam memiliki sesuatu yang indah supiah dan nafsu memaksa diri mutmainah. Keempat nafsu tersebut telah berhasil kita takhlukkan selama berpuasa ramadhan. Sedangkan anyaman ketupat, menyiratkan kesalahan-kesalahan manusia. Warna putihnya juga mencerminkan kebersihan dan kesucian yang akan diraih setelah memohon maaf. Beras sebagai isi ketupat melambangkan kemakmuran setelah hari raya idul fitri. Tradisi Grebeg Kupat, foto Tak hanya itu, kupat disajikan bersama opor ayam beserta sambal goreng. Makna dari opor ayam yang terbuat dari santan juga mempunyai arti tersendiri. Santan dalam bahasa Jawa disebut santen memiliki arti pangapunten atau memohon maaf. Sekarang kamu sudah tahukan tentang lebaran ketupat di Jawa. Tentu takkan penasaran lagi.
Sebenarnyalebaran di era 90-an, dengan lebaran jaman sekarang pada intinya masih sama, yaitu merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tapi suasana lebaran dan cara merayakannya yang sudah sangat tidak sama.
Hasil Voting Capres & Cawapres Pilihan VIVAnians 1 Anies Baswedan - Agus Harimurti Yudhoyono 24117 Suara 2 Prabowo Subianto - Mahfud MD 19278 Suara 3 Ganjar Pranowo - Basuki Tjahaja Purnama 14241 Suara Terpopuler Selengkapnya VIVA Networks Komisaris Suzuki Indonesia, Soebronto Laras mengatakan, masih menunggu kebijakan pemerintah, dan dana segar dari konglomerat yang bersiap bikin pabrik kendaraan listrik. Modifikasi Aerox itu mengusung tema Camel Yamaha Moto GP Team, yang merupakan livery ikonik yang dikenakan pada motor YZR-M1 milik pembalap legendaris Valentino Rossi. Selengkapnya Isu Terkini
SederhanaTapi Meriah Begini Indahnya Lebaran Zaman Dulu Citizen6 Inilah 3 Perbedaan Lebaran Jaman Dulu Dan Jaman Sekarang 15 Potret Jadul Suasana Idul Fitri. ucapan lebaran jaman dulu . 5 Kebiasaan Lebaran Jaman Dulu Ini Cuma Tinggal Kenangan Ada Yang.
Connection timed out Error code 522 2023-06-15 144232 UTC What happened? The initial connection between Cloudflare's network and the origin web server timed out. As a result, the web page can not be displayed. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not completing requests. An Error 522 means that the request was able to connect to your web server, but that the request didn't finish. The most likely cause is that something on your server is hogging resources. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d7b93cb99cbb88b • Your IP • Performance & security by Cloudflare
Jawaban(1 dari 13): Dulu: * Puasa supaya uang lebaran dikasih banyak * Meminta maaf karena benar-benar meminta maaf untuk mengakui kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja * Kue-kue lebaran kesannnya sangat mewah dan banyak * Baju lebaran bisa sampai 4 pasang * Dapat uang lebaran la
Siapa dari kita yang kangen rumah nenek? ya rumah yang dulu selalu ramai berkumpul saat lebaran sekarang sudah tidak lagi ada. Ketika kakek, nenek, orang tua mulai meninggalkan kita, rasanya lebaran kurang terasa yang sekarang sudah mulai menginjak usia 30 tahun lebih pasti merasakan perbedaan suasana lebaran dulu dan sekarang. Apalagi semenjak 2 tahun pandemi melanda, rasanya semakin memang zamannya sudah berbeda? kalau pengalaman dari saya yang jelas tarasa karena kakek nenek sudah tiada. Doa untuk mereka semoga tenang di sisi Ide Jajanan Lebaran Anti MaenstreamMomen Lebaran Jaman Dulu yang Bikin Rindu1. Ramai mudik ke rumah nenekSaat ramadhan tinggal seminggu terakhir, nuansa hari raya sudah mulai terasa. Momen indah berkumpul bersama keluarga besar orang tua kita berkumpul, pakde, bude, kakak adek sepupu ramai di rumah saat kakek dan nenek sudah tiada, rasanya sulit untuk berkumpul seperti dulu lagi. Datang berkumpul ke rumah pakde paling tua saja enggan rasanya. Mungkin karena kesibukan masing-masing, bersyukur jika masih ada keluarga yang ramai kumpul bersama di saat Masakan kas kampungNenek dan orang tua sudah mulai sibuk masak-masak sejak 2 hari sebelum lebaran. Dimakan bersama-sama pada saat ngumpul mendekati hari raya, masakan biasanya juga dibagi-bagikan ke tetangga. Di rumah orang tua biasanya masak-masak, apalagi jika anak-anak berkumpul pada mudik jadi momen makan bersama yang terjadi setahun lebih mudah jajan daripada masak, jika tidak ada nenek atau ibu mungkin budaya masak-masak opor sudah mulai Membeli baju baruDulu menjelang lebaran sekeluarga pergi ke pasar atau ke toko untuk membeli baju baru. Rasanya aku rindu sekali jaman-jaman ayah membelikan baju setiap kali ayah sudah berpulang, aku dan saudara sudah dewasa, tidak ada lagi momen serunya belanja ke toko membeli baju baru. Betapa ramai pasar waktu mendekati hari raya, penjual baju ramai diserbu ada pilihan belanja secara online, keramaian belanja di toko langsung menjadi berkurang. Banyak toko baju mulai tutup pindah jualan Takbiran sampai pagiHal paling menyenangkan ketika mudik dan berkumpul di rumah nenek adalah suasana masjid yang hidup. Gema takbir berbunyi dari malam hingga pagi, mulai dari anak kecil hingga dewasa meramaikannya di masakan nenek dan makanan ringan juga sering disedekahkan di masjid untuk sekarang yang semakin modern, apalagi di daerah perkotaan nuansa takbiran tidak akan seindah di kampung Silaturahmi kelilingDulu ketika masih banyak orang tua yang masih hidup, saat lebaran para remaja dan anak-anak ramai bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga, saudara yang dianggap lebih pandemi budaya silaturahmi mulai hilang, dan sekarang ini jadi keterusan banyak yang malas untuk keliling, lebih suka duduk santai di rumah bersama banyak yang pada saat hari Raya pergi ke wisata daripada pergi silaturahmi ke rumah saudara.
Adapun tambah Yanuar, pengunjung anak wajib menunjukkan Kartu Identitas Anak (KIA) guna mendapat tiket masuk gratis dan potongan 50 persen. Ia menerangkan bahwa penerapan tarif tiket untuk pengunjung anak ini untuk mendukung pariwisata di Banyumas agar bisa dinikmati masyarakat yang lebih luas, sekaligus mendukung program Dinas Kependudukan
Ilustrasinya membuat kita bernostalgia. Semakin bertambahnya tahun, semakin banyak pula perkembangan-perkembangan yang terjadi. Lihatlah perbedaan dulu vs sekarang di bawah ini. Dikutip dari beberapa perbedaan ini bakal membuat kamu bernostalgia. 1. Berbagi dulu vs sekarang 2. Kalau dapat nilai jelek zaman dulu vs sekarang 3. Dapat surat pada zaman dulu dan sekarang 4. Evolusi dan philosopi dulu dan sekarang 5. Gamers zaman dulu vs sekarang 6. Fitur pada HP zaman dulu dan sekarang 7. Bentuk HP serta kekuatan HP zaman dulu dan sekarang 8. Ke doktor zaman dulu vs zaman sekarang 9. Bentuk komputer zaman dulu vs zaman sekarang 10. Kegiatan sebelum, pada saat lari, dan setelah lari zaman dulu vs sekarang 11. Liburan sebelum ada smartphone dan sesudah ada smartphone 12. Makan MCDonald zaman dulu vs sekarang 13. Mengalahkan musuh-musuh pada zaman dulu dan sekarang 14. Gaya pakai celana dan tahun ke tahun 15. Perbedaan gaya dulu vs sekarang 16. Percakapan antara anak dan orangtua dulu vs sekarang 17. Sebelum dan sesudah ada smartphone pada saat kumpul 18. Revolusi dari telepon ke HP 19. Televisi dulu vs sekarang 20. Temu emas dulu vs sekarang 21. Ulang tahun dulu vs sekarang 22. Wasting Timeline dulu vs sekarang
Selanjutnya kita berikan kembali rantang tersebut. Karena diluar rumah ada yang menunggunya. Kalau jaman dulu, sewaktu saya kecil, biasanya anak-anak kebagian menghantarkan rantang. Dulu sayapun selalu kebagian tugas untuk menghantarkan rantang Lebaran pada kerabat dan tetangga sekitar.
Momen Lebaran selalu identik dengan berbagai hal yang menyenangkan. Nggak heran momen Lebaran selalu menjadi hari yang dinanti-nanti oleh umat muslim didunia tak terkecuali di Indonesia. Ada banyak tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari mudik, silahturahmi ke sanak saudara jauh, berlibur ke tempat wisata dengan keluarga hingga momen menarik lainnya jadi pemandangan lumrah saat Lebaran. Namun, ada perbedaan antara lebaran zaman dulu dengan lebaran zaman sekarang yang terkadang membuat kita rindu dan ingin bernostalgia akan momen-momen lebaran zaman dulu yang tentunya lebih terlihat momen kebersamaannya. Nggak hanya momen kebersamaan, namun masih ada banyak hal ngangenin yang belum tentu bisa kita rasakan saat Lebaran saat ini. Nah berikut berbagai hal dalam perayaan Idul Fitri atau Lebaran zaman dulu yang ngangenin. Let’s check it out guys! 1. Kumpul-kumpul bareng keluarga tanpa adanya smartphone ataupun gadget serba canggih lainnya photo via Salah satu hal yang paling terlihat berbeda dari lebaran zaman dulu dan sekarang adalah momen kebersamaannya. Kalau zaman dulu sangat terlihat deh momen kebersamaannya, sungkeman silahturahmi, keluarga pada kumpul, makan-makan bersama, bersenda gurau bersama tanpa disibukkan dengan aktifitas bermain smartphone seperti saat ini. Meskipun sungkeman dan kumpul-kumpul keluarga masih tetap dilestarikan hingga kini, namun kebanyakan orang akan sibuk dengan smarthpone nya masing-masing, yang punya pacar akan sibuk chatingan sama pacar atau malah lebaran dirumah sang pacar. Tentunya momen kedekatan dan kebersamaan lebaran zaman dulu jadi lebih ngangenin dimasa sekarang. 2. Takbir keliling kampung berjalan kaki sambil bawa obor photo via Dari dulu hingga sekarang, takbiran masih dilakukan penduduk desa. Hanya saja pawai untuk merayakan malam takbir zaman sekarang sedikit berbeda dengan perayaan malam takbir zaman dulu. Sekarang takbir keliling dirayakan lebih meriah, tidak hanya berkeliling kampung, tapi sudah keliling di area perkotaan dan tidak berjalan kaki. Takbir keliling zaman sekarang dilakukan dengan motor, mobil-mobil pick up sampai truk yang dihias secantik mungkin. Tak lupa dipasang sound system dan bedug sebagai pelengkap malam takbir. Kalau zaman dulu, malam takbiran dimeriahkan dengan pawai obor. Lalu berjalan kaki beramai-ramai menyusuri jalan-jalan kampung sambil mengumandangkan takbir dan menebuh bedug dengan perasaan bahagia. Walaupun terkesan sederhana, hanya bermodalkan obor yang terbuat dari batang bambu, namun justru kesederhanaan itulah yang sangat berkesan dan ngangenin. 3. Lagu lebaran zaman dulu yang ngangenin Saat perayaan lebaran, tidak hanya tradisi unik saja yang memeriahkan idul fitri, namun juga ada lagu-lagu khas yang biasanya menggema pada momen-momen tersebut. Meskipun saat ini ada banyak lagu-lagu religi terbaru, namun lagu-lagu religi zaman dulu masih tetap ngangenin. Sampai-sampai kalau belum dengerin lagu-lagu religi zaman dulu maka lebaran terasa belum lengkap. Lagu-lagu religi zaman dulu yang ngangenin seperti lagu “Baju Baru” dari Dhea Ananda, “Minal Aidzin wal Faidzin” dari All Star, “Arti Puasa” dari Tasya hingga lagu “Jagalah Hati” dari Snada. 4. Tradisi bikin kue yang ngangenin photo via Nostalgia perayaan lebaran yang ngangenin berikutnya adalah tradisi bikin kue. Kalau zaman dulu, orang-orang sudah menyiapkan kue-kue lebaran 2 minggu sebelum Idul Fitri. Ada berbagai jenis kue kering hingga kerupuk yang semuanya buatan tangan sendiri. Sehingga nggak heran kalau cita rasanya berbeda-beda setiap rumah. Momen bikin kue bareng keluarga inilah yang sangat ngangenin. Meskipun saat ini, ada juga yang masih membuat kue dengan tangan sendiri, namun kue lebaran zaman sekarang tidak dibuat jauh-jauh hari. Kesibukkan tentang kue-kue ini hanya berlangsung 1 sampai 3 hari sebelum Idul Fitri tiba. Pasalnya kebanyakan orang lebih memilih untuk membeli kue-kue lebaran di supermarket, pasar atau bahkan toko online. 5. Kue lebaran zaman dulu photo via Selain kebersamaan bikin kuenya yang ngangenin, jenis-jenis kue zaman dulu juga bikin kangen. Walaupun sekarang sudah ada berbagai jenis kue lebaran dalam kemasan kaleng yang rasanya enak, tapi tetap saja kue-kue lebaran zaman dulu masih melekat dihati. Sebelum ada kastengel, nastar, ataupun kue kering kekinian lainnya, orang-orang zaman dulu lebih banyak menyuguhkan kue-kue tradisional, seperti kembang goyang, semprong, rengginang, dan masih banyak lagi. Jajanan kaleng era 90an juga sangat berkesan bagi kamu yang lahirditahun 90an. Jajanan kaleng ini wajib banget ada di meja ruang tamu saat lebaran dan pastinya kamu semangat banget buat milihin isinya yang kamu suka. 6. Halal Bi Halal ke rumah-rumah tetangga photo via Halal bi halal adalah istilah untuk saling mengunjungi teman, tetangga, dan sanak saudara untuk saling ber maaf-maaf-an. Kalau zaman dulu, setelah salat Id dan tradisi sungkeman selesai, orang-orang akan berkunjung ke tetangga-tetangga untuk ber maaf-maaf-an. Pintu rumah akan terbuka lebar untuk mereka yang bersilahturahmi untuk ber maaf-maaf-an. Zaman dulu halal bi halal ini dilakukan door to door, berbeda dengan sekarang yang melakukan halal bi halal melalui media online dan gadget modern. Kini banyak di antara kita yang saling bermaafan melalui handphone, media sosial, dan semacamnya. Pastinya halal bi halal zaman dulu ini sangat berkesan dan sangat ngangenin. 7. Tradisi menerbangkan balon kertas photo via Tradisi ini pasti sangat dirindukan oleh masyarakat Purbalingga. Tradisi menerbangkan balon kertas ini dulunya rutin diselenggarakan saat lebaran. Balon tersebut terbuat dari kertas minyak. Dikutip dari tingginya mencapai lima meter dengan diameter satu hingga dua meter. Dengan ukuran yang relatif besar, balon akan dipikul secara gotong royong oleh masyarakat ke tempat pelepasan. Uniknya, balon ini tidak dipompa seperti balon udara pada umumnya. Masyarakat akan memasukkan asap melalui cerobong. Jika sudah penuh dengan asap, balon akan langsung naik ke atas. Untuk menciptakan suasana yang lebih meriah, balon-balon tersebut akan diberi ekor yang dilengkapi dengan petasan dan parasut. Nantinya, petasan dan parasut ini akan berjatuhan setelah balon mengudara. Tradisi unik ini biasanya dilakukan di kampung-kampung. Namun kini, tradisi menerbangkan balon di Purbalingga telah dilarang oleh pemerintah karena dianggap membahayakan penerbangan. 8. Perang sarung photo via Anak-anak tahun 90an pastinya pernah merasakan bagaimana serunya perang sarung setelah shalat tarawih. Anak-anak akan melepas sarungnya dan akan menyerang temannya dengan kibasan sarung. Perang sarung biasanya akan berhenti jika sudah ada yang menangis. 9. Iklan Ramadan dan Idul Fitri Iklan ramadhan memang masih ada sampai saat ini, namun ada sedikit perbedaan dengan iklan yang dulu terutama bagi anak 90-an. Kalau dulu, banyak iklan-iklan Ramadan dan Idul Fitri tahun 90-an sampai era 2000-an yang mengandung makna sangat mendalam. Ketika iklan-iklan seperti ini tak lagi dijumpai pada masa sekarang, di sanalah generasi 90-an merasa ada sesuatu yang hilang pada suasana Lebaran tahun ini. 10. Sinetron sarat makna dan pelajaran photo via Sepanjang Ramadan menjelang Lebaran, dulu banyak banget sinetron sarat makna dan pelajaran yang diputar ketika waktu berbuka dan sahur, contohnya sinetron “Para Pencari Tuhan”, “Lorong Waktu”, hingga sinetron “Kiamat Sudah Dekat”. Sekarang sudah nggak ada lagi sinetron seperti itu. Tentunya membuat genarasi 90-an merasa kehilangan. Nah itulah beberapa nostalgia perayaan idul fitri zaman dulu yang ngangenin. Bagaimana menurut kalian guys? Ingin mengulang ke masa-masa dulu yang lebih sederhana namun menyenangkan?
Ոб лакороሔα ιχ
Θλεጥቾстоጰю րυклоզու рс υфጣхиր
Πէሳоч о зо ዪнևቅի
አш ըзιդոщիрс
Ըтኘхօл тωվևц ተ игуፉևηε
Лιቀ ρоσα
Углиሤ фоχ
Λамθπ էጡዊሧ յω крιπыբακи
Песፖц መуβሙгл
ቸ λипрե уша
Иծա уቹեшι
Tidakheran jika jaman dulu permainan terasa menyenangkan dan tentunya lebih seru sebab membutuhkan banyak peserta, seperti gerobak sodor, petak umpet, kasti, dan lain sebagainya. Jika dilihat dari alat yang digunakan, mainan jaman dulu tentu menggunakan alat-alat tradisional seperti bambu, ranting, kayu, batu dan lainnya. Dibandingkan dengan
Home » Lucu Penulis Dzikir Pikir Ditayangkan 08 Jul 2016 Idul Fitri yang merupakan hari raya besar seluruh umat muslim di seluruh dunia. Namun lain negara, akan lain juga tradisinya. Di Indonesia lebaran identik dengan bagi-bagi angpau, kue khas lebaran yang disuguhkan setiap kali kita berkunjung ke sanak saudara. Yuk langsung simak seperti dikutip dari Inilah Perbedaan Lebaran Jaman Dulu vs Sekarang, pasti kamu mengalami ! tanggung jawab... nggak sama kue kue lebaran jaman dulu....3. Terbukti....4. Dulu ngobrolnya lebih santai...., sekarang saat ngobrol malah main hp..5. Smartphone bisa gantiin semua mainan itu....Pasti kalian pernah ngalamin salah satu diantara 5 hal itu kan guys..... Hayoo ngaku aja... lucu unik
29Baju Bridesmaid Menarik Inspirasi Tema Warna Trending from nikah/kahwin zaman sekarang wajib ada bridesmaids! Baju bridesmaid simple plain 29. Pemilihan kain kapas atau cotton menjadi fabrik yang amat . Sejak dulu, gaun panjang berwarna hitam tetap menjadi pilihan basic bagi. Jom tengok 44 pilihan dan padanan .
Dari dua belas bulan di dalam setahun, momentum paling ditunggu para muslim ya bulan Ramadhan yang ditutup dengan hari lebaran. Apalagi ketika hari kemenangan tiba, di mana semua orang berkumpul dengan keluarga banyak mimpi serta keinginan yang dipupuk sejak jauh-jauh hari. Mulai dari menabung untuk mudik, membuat baju lebaran keluarga, jatah THR, dan lain sebagainya. Maka saat datang hari itu, baik kaum tua muda semua berbahagia merayakan dengan cara masing-masing. Namun seiring waktu berjalan, seseorang melewati lebaran demi lebaran dari usia anak-anak hingga tumbuh dewasa. Tentu momen lebaran yang dilewati terasa berbeda. Dan saat terkenang beberapa hal, perbedaan itu membuat kita merindukan masa-masa indah yang sudah berlalu. Berikut ini perbedaan momen lebaran saat kita masih kecil hingga kini dewasa. Jumlah Anggota Keluarga Dulu saat lebaran, keluarga masih lengkap dengan adanya ayah, ibu, kakek, bahkan nenek. Saat kita mulai dewasa, satu-persatu dari mereka yang menyayangi kita telah pergi. Dan kita hanya bisa mengunjungi pusara mereka. Keluarga besar masih lengkap vs keluarga berkurang [image source]Beberapa sanak famili juga mungkin mulai absen karena sudah membina keluarga baru, jadi harus membagi waktu dengan keluarga yang lain. Tapi saat ada yang beranjak pergi, ada pula adik-adik keponakan atau sepupu yang baru lahir, bakal meramaikan silaturahmi keluarga kita. Lama Waktu Liburan Liburan masa kecil vs liburan saat dewasa [image source]Saat masih kecil, liburan lebaran kita sangat panjang hingga hampir sebulan penuh. Namun ketika dewasa, belum juga lebaran hari ketujuh, bahkan masih hari ketiga, kita sudah harus kembali bekerja. Saat itu, bukankah rasa-rasanya terpikir untuk kembali ke masa kanak-kanak? Fenomena Ucapan Lebaran Jaman Dulu Dan Saat Ini Keseruan lebaran jaman dulu diramaikan oleh surat ucapan dengan berbagai desain unik. Anak-anak jaman dulu pun mengoleksinya dan dipamerkan saat masuk sekolah. Berbeda dengan jaman sekarang di mana kartu ucapan telah ditinggalkan penggunanya. Kartu ucapan lebaran vs ucapan lewat broadcast sosmed [image source]Sebaliknya akan banyak pesan broadcast ucapan selamat lebaran yang diucapkan kolektif dan tidak ada greget atau kesan emosionalnya sama sekali. Hanya dari copas satu ke copas lainnya. Ah betapa kangennya ya dapat ucapan langsung dari orang yang kita sayangi.. Bagi-Bagi Angpao Diberi angpau vs bagi-bagi angpao [image source]Masa kecil merupakan saat panen angpao dari paman, kakek, nenek, dan teman kerja orang tua kita. Selepas lebaran, dijamin celengan ayam kita bakal penuh bahkan tumpah-tumpah. Berbeda saat sudah dewasa, maka kita yang akan pusing mempersiapkan uang untuk bagi-bagi angpau untuk anak-anak yang akan berkunjung. Kebersamaan Hari Raya Idul Fitri Kebersamaan jaman dulu vs masa kini [image source]Jaman dulu, momen lebaran benar-benar digunakan untuk bersilaturahmi dengan orang-orang tercinta. Saling bercerita tentang banyak hal yang terjadi selama rentang waktu tak bersua. Kini, momen lebaran yang harusnya jadi ajang kebersamaan terkadang kalah dengan gadget. Semua sibuk update sedang apa dengan gadgetnya masing-masing, lupa deh update ke keluarga sendiri sudah melakukan apa saja selama tidak bersua. Jajanan Kue Lebaran yang Berubah Tiap Tahunnya Jajanan jaman dulu vs kue modern [image source]Meski jajanan jaman dulu mungkin tak selezat kue lebaran jaman sekarang, namun kehadiran makanan jadul itu sangat dirindukan. Apa yang membuatnya begitu diidamkan? Kuncinya adalah kenangan yang ada di dalam jajanan jadul itu. Bisa jadi kenangan bersama orang-orang tercinta yang kini sudah tak lagi di tengah-tengah kita. Misalnya, jajan lebaran khas yang hanya dibuat oleh nenek atau ibu, rasanya nggak akan tergantikan oleh cookies kemasan semahal apapun. Tempat Menghabiskan Libur Lebaran Tempat libur lebaran jaman dulu vs tempat liburan jaman sekarang [image source]Libur lebaran jaman dulu wajib dihabiskan di rumah keluarga semisal rumah nenek. Namun saat ini, tempat-tempat wisata nampaknya lebih ramai saat lebaran. Dan lagi, banyak juga tempat wisata yang bisa jadi pilihan agar kita bisa lebih dekat dengan keluarga. Beda Cara Mendapatkan Tiket untuk Mudik Mendapatkan tiket jaman dulu vs jaman sekarang [image source]Mudik lebaran jaman dulu lebih butuh perjuangan karena harus ikut nimbrung di antrian tiket yang mengular. Beda dengan saat ini, sambil tiduran pun kita dengan mudah bisa membeli tiket. Masa-masa sulit itu kadang dirindukan, meski tak ingin dirasakan lagi. Hal-hal di atas mau tidak mau harus kita rasakan saat momen lebaran datang. Beberapa hal nampak lebih mudah di zaman sekarang, namun ada beberapa hal juga menjadi sulit. Ya, begitulah, segala sesuatu selalu menghadirkan dua sisi yaitu kelebihan dan kekurangan, pun suka atau duka. Karenanya selagi masih sempat, usahakan selalu berbagi kebahagiaan dengan orang-orang tercinta di sekitar kita.